LAUTAN CERITA

MENJADI PEMENANG ATAS KESULITAN

Posted by Ida_Choll in Oct 26, 2010, under Uncategorized

Kesulitan bukan sesuatu yang harus kamu takuti dan kamu hindari. Kesulitan adalah tantangan yang harus kamu taklukan, dengan segenap daya dan kekuatan. Hanya manusia penakut yang lari dari kesulitan. Hanya manusia berhati lemah yang surut terhadap tantangan.

Hidup akan berarti manakala banyak tantangan yang kau temui, dan pada akhirnya  mampu kau atasi.

Jadilah pemenang atas segala kesulitan dan tantangan. Jangan jadi pecundang atas masalah yang datang, tapi hadapi dengan penuh semangat dan daya juang.

Hingga akhirnya kau benar-benar keluar sebagai pemenang!!!***

Bogor, Okt 2010-

Comments Off more...

SABAR

Posted by Ida_Choll in Oct 26, 2010, under Uncategorized

Sabarlah terhadap apapun yang menimpamu. Jangan terlalu bersedih, jangan terlalu cemas, jangan terlalu takut, dan jangan mengeluh. Tetaplah berusaha, sandarkan semuanya kepadaNya.

Pupuk rasa optimismu, bahwa badai pasti berlalu. Berjuang keras untuk menaklukan kesulitan, diiringi sabar dan ikhtiar, serta doa yang selalu terpancar.

Yakinlah, kau pasti bisa!

Bogor, Okt 2010-

Comments Off more...

MEMBERDAYAKAN USIA

Posted by Ida_Choll in May 06, 2010, under Uncategorized

Jika kau sadar bahwa waktu kan terus berlalu, dan lambat laun masa tua kan mendatangimu, maka cepatlah, cepat menyungkur dan bersujud kepadaNya. Sebab engkau tak akan pernah tahu, kapan kematian agar segera menjemputmu.

Maka jika kau sadari itu, segeralah kau berdayakan sisa umurmu. Menyesallah andai selama ini ternyata banyak kesia-siaan yang engkau lakukan hingga serasa tak bermanfaat usia yang tertinggal. Tak ada kata terlambat untuk bertobat. Tak ada kata “nanti” untuk memperbaiki diri.

Bersegeralah, selagi usia masih setia menemani…***

Comments Off more...

CINTA YANG SEBENARNYA

Posted by Ida_Choll in May 05, 2010, under Uncategorized

Jika engkau merasa bahwa adamu karena Dia, maka tunjukkan pengabdian dan rasa cintamu kepadaNya. Senantiasa berbuat baik, selalu dalam jalan lurusNya, dan menunjukkan pengabdian serta peribadahan yang khusyu’ hanya untukNya.

Jika engkau merasa bahwa keluarga adalah bangunan terindah yang mesti engkau jaga, maka berikan cinta utuhmu hanya untuk keluarga; untuk pasanganmu, untuk anak-anakmu.

Jika pekerjaan adalah sesuatu yang selama ini membantu ekonomi keluargamu, maka cintailah pekerjaanmu, bekerjalah yang terbaik semampumu, dan berkaryalah agar berguna dan sempurna kehidupanmu.

Jika menyalurkan hobi adalah kegemaranmu untuk mengisi waktu luangmu, maka lakukan apa saja yang bermanfaat di sela waktu harianmu. Senangkan hatimu, percikkan kebahagiaan bagi sekelilingmu.

Yakinlah, jika engkau menempatkan cinta dengan sebenarnya, engkau akan mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian yang terbentang nyata…***

Bogor, Mei 2010

Comments Off more...

WIS PODO TUWO….

Posted by Ida_Choll in Sep 06, 2009, under Uncategorized

Masa berlalu. Dua dasawarsa meninggalkan kenangan masa sekolah, masa SMA. Banyak kenangan tercipta. Banyak tawa terukir. Banyak suka, banyak duka, melintas di kepala.

Kami bertemu kembali, dalam banyak nuansa. Segalanya telah berubah. Pada diri kami. Pada wajah kami. Pada tingkah laku kami. Meski hanya melalui foto, kami saling mengaca diri. Betapa, perputaran waktu turut menjelmakan diri kami…

Dahulu ia cantik. Dahulu ia mulus. Dahulu ia padat. Dahulu ia sexy. Sekarang ia …, kok?
Dahulu ia ganteng. Dahulu ia bersih. Dahulu ia macho. Sekarang ia…, lho?

Dahulu ia jelek. Dahulu ia jerawatan. Dahulu ia loyo. Sekarang ia…, ehm.
Dahulu ia tak karuan. Dahulu ia awut-awutan. Sekarang ia…, wuih.

“Tahu Sumedang, enak rasanya. Dulu dan sekarang, tentu tak sama…”

Begitulah, banyak perubahan yang kutangkap pada diri teman-temanku, pun pada diriku. Perubahan dalam banyak hal. Dari tampilan fisik sudah jelas, kami hampir berubah total, meski masih tersisa sedikit profil wajah di masa lalu. Ada yang semakin cantik meski digerogoti usia. Ada yang berubah penampilan. Ada yang semakin tak karuan. Ada yang semakin menawan. Sungguh beragam.

Intinya, apapun perubahan pada diri kami, kami tetap sama; berubah menjadi tua!

Tak terasa memang. Saat anak-anak telah besar, saat bercermin di kaca besar, saat diri tersadar, terpanalah kita;

“Oh…., aku telah dimakan usia rupanya…”

Mulailah muncul kekhawatiran, kegusaran, kegalauan. Mulailah muncul banyak usaha, untuk mempermak rupa…

Menjadi tua itu alamiah. Jangan ditakuti kedatangannya. Kau menghindar ia pun mengejar. That’s why, menyikapinya dengan cara yang benar dan bijak, mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat, adalah sebuah tindakan yang sangat tepat.

Aku bersyukur Allah masih memberiku umur. Dan aku bahagia, meski usiaku tak lagi muda…….***

Cileungsi, Agustus 2009_

Comments Off more...

TAK BISAKAH

Posted by Ida_Choll in Sep 06, 2009, under Uncategorized

tak bisakah kau beri aku sedikit waktu
tuk dapat aku menyentuh ujung indahmu
tak bisakah kau beri aku secercah cahaya
tuk dapat aku memandangmu saja

engkau tak pernah terkuak
sejak kejujuran tersibak
engkau tak pernah bergeming
sejak semuanya menjadi kering

tak bisakah kau membuka kata
sekedar aku melepas kegundahan jiwa
tak bisakah kau memberiku kata maaf
agar berlalu kebencian dada

engkau tetap diam
tak bersuara
tak memberi sinyal apa-apa
tak meresponku seperti biasanya

maka kudoakan engkau
tuk diam selama-lamanya

sebab
tak bisakah engkau
sekedar mengirimku kata
yang lebih bermakna?

hingga tak lagi tersisa
rasa yang pernah ada….***

Cileungsi, Agustus 2009-

Comments Off more...

MENGAPA PULA

Posted by Ida_Choll in Sep 06, 2009, under Uncategorized

mengapa harus aku mengenangmu
sedang adamu tak lagi mencahayaiku

mengapa harus aku mengingatmu
sedang diammu membekukan hatiku

mengapa harus aku menunggumu
sedang adamu tak lagi untukku

mengapa harus aku memujamu
sedang dirimu telah berlalu

mengapa harus aku membencimu
sedang kau tak berarti apa-apa bagiku

mengapa harus kupegang janjiku
sedang dirimu lupa akan janjimu

dan mengapa pula…
mengapa harus aku kembali bertemu
setelah belasan tahun masa berlalu
kita tak pernah bertemu?

aduhai
mengapa pula aku harus terhanyut
oleh sapa mesramu
sedang akhirnya diriku
terkapar oleh sakitnya rindu
tersiksa oleh diamnya dirimu
terbelenggu oleh masa lalu

mengapa pula
Tuhan memberiku jalan
tuk menemukanmu
sedang pertemuan
berakhir dengan saling mendiamkan?

ah,
mengapa pula aku harus bersedih
sedang dirimu
tak lagi peduli….***

cILEUNGSI, aGUSTUS 2009-

Comments Off more...

MALING SIAL…

Posted by Ida_Choll in Sep 06, 2009, under Uncategorized

Kemarin-kemarin aku dilanda sewot yang sangat luar biasa. Terhadap Malaysia, yang banyak menghina dan melecehkan bangsa dan negara Indonesia. Jika mereka mengatakan Indonesia sebagai Indonesial, maka kukatakan mereka bukan Malaysia, tapi Malingsial…

Sudah maling, sial lagi! Sebagai anak bangsa wajar kalau aku tersulut melihat sepak terjang Malaysia. Sebuah negara kerdil yang pongah, sombong, dan tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Berulangkali menghujat Indonesia, berulangkali mencuri hasil budaya Indonesia. Tak tahu malu. Tak tahu etika.

Sedemikian bodohkah rakyat Malaysia, hingga membuat suatu “kekhasan” untuk negeri sendiri saja tak bisa? Mengapa terkesan sekali, ia serba menjiplak, meniru dan mengklaim hasil seni budaya bangas? Tak tahu malukah si muka tebal Malingsial?

Biarlah, Indonesia ibarat pohon yang tinggi menjulang. Semakin tinggi semakin kencang mendapat terpaan. Sedangkan malingsial adalah rumput. Bagaimana angin hendak menggoyangkannya, sedangkan ketinggiannya hanya beberapa centi saja? Maka bukan dengan goyangan angin ia kan porak-poranda, melainkan dengan injakan kaki ia kan sekarat. Rumput tetap rumput. Apalagi rumput lapangan bola, keberadaannya menjadi bahan injakan kaki belaka. Setarakah rumput dengan pohon yang tinggi menjulang? Tentu tidak!

That’s why, sikap yang sebenarnya adalah tidak meladeninya dengan membalas hujatannya. Biarlah dunia yang menilainya. Tapi ketegasan sikap kita mutlak diperlukan, demi kewibawaan bangsa dan negara. Biar bagaimanapun menolerir sebuah penghinaan pasti ada batasnya. Kesabaran juga ada batasnya. Wajar dan manusiawi jika kita, anak bangsa, ikut tersulut dan terbakar emosi mendengar penghinaan dan hujatan mereka. Tapi sekali lagi, kita perlu memaklumi. Mereka orang-orang yang sakit, orang-orang yang ingin mendapat perhatian, orang-orang yang mengharapkan kemustahilan. Bagaikan pungguk merindukan bulan.

Apa yangs sedang kita alami saat ini adalah sebuah momentum bagi kita untuk berkaca diri. Untuk berintrospelsi. Apa yang salah sehingga mereka terus-menerus merongrong Indonesia? Ada apa dengan kita? Telah sempurnakah kita hingga mereka begitu iri pada kita? Atau begitu lemahkah kita sehingga mereka dengan lancang dan terang-terangan melecehkan negeri kita?

Saatnya berbenah. Saatnya mawas diri. Saatnya mengenali diri sendiri. Mungkin juga selama ini kita telah memberikan celah pada mereka, hingga leluasa mereka mengobok-obok kita. Mungkin juga selama ini kita sibuk berkonfrontasi di kandang sendiri, hingga lupa bahaya mengancam di luar diri.

Mari kita lebih mencintai negeri sendiri. Memakai produk dalam negeri. Membatasi impor, mengoptimalkan produksi dalam negeri. Satukan hati dan tangan, perkokoh persatuan. Abaikan kemajemukan, rentang tali persaudaraan. Sayangi warisan budaya bangsa, saling menjaga keutuhan bangsa.

Kemerdekaan yang kita peroleh, kedaulatan negeri yang kita diami, bukan diperoleh dengan mudah dan begitu saja, melainkan dengan tetesan darah, perjuangan dan air mata para pendahulu kita. Jika kita yang tinggal menikmatinya saja tak bisa mempertahankan dan mengisi kemerdekaan negeri ini, maka tidak mustahil sekian waktu yang akan datang penjajahan baru dan penyerangan dari segala penjuru akan datang pada Indonesia. Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Semua penuh kemungkinan.

Itulah mengapa mari kita bersatu, bersama-sama melangkah, demi Indonesia jaya, demi Indonesia Raya. Usah pedulikan hujatan malingsial, karena biar bagaimanapun kita tetap lebih baik daripada mereka. Jika mereka bisa meniru dan sempat menyalip kita dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, maka sudah semestinya kita bergerak setengan berlari, kemudian berlari mengejar ketertinggalan diri. Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri.

Indonesia tetap jaya, Indonesia tak pernah sial. Tetapi Malaysia, tetap maling sial….***

Cileungsi, Agustus 2009-

Comments Off more...

YOU WANT???

Posted by Ida_Choll in Sep 06, 2009, under Uncategorized

Hahaaaa…., apakah anda punya “rahasia kata” yang sama-sama dimengerti anda dan kekasih hati anda, tanpa anak-anak atau siapapun yang mengetahui artinya? Bila tidak, sungguh kasihan anda! Bahasa isyarat ataupun kata rahasia, kadang diperlukan untuk sebuah tujuan. Apa itu?

Aku mengajar bahasa Inggris. Suamiku mengajar bahasa Perancis. Tetapi, aku buta bahasa Perancis. Paling-paling, “Bonjour Monsieur”, atau “Bonjour Madame”. Kalau suamiku, pandai berbahasa Inggris. Ia multi talenta. Pandai berbahasa Perancis, Inggris, Padang, Sunda, Indonesia maupun Jawa. Senang bukan? Dan yang pasti, ia jago memasak! Hahaaaa…, ini yang aku suka! Kelezatan masakan suamiku mampu memancing nafsu birahiku, eh salah nafsu makanku. Hm….

Kembali ke topik semula. Entah siapa yang memulai, kapan waktunya, kami seolah mengerti bahasa isyarat dan kalimat rahasia yang sama-sama kami mengerti. Biasanya kami lakukan sembari bercanda. Suamiku paling pintar menggoda. Ketika tubuh dilanda penat, ketika asap gorengan menyengat, tiba-tiba ia mencolek dari arah belakang dengan kalimatnya yang selalu ia sapakan;

“Masak apa, Dek? Yang empuk, ya?”

Hahaaaa…, biasanya aku langsung tertawa, terbahak-bahak. Sumpah mati, meski aku orangnya pemarah, gampang tersinggung dan suka mengomel, aku bak macan betina yang kehilangan gigi taring kalau kena colek dan sapa mesra misua.

“Ah, masak enak juga biasa aja, nggak dikasih hadiah….”

Hahaaaa…., mulailah kata-kata ngelanturnya. Sementara anak-anak berada di dekat kami, gelagapan kami merangkai kata. Hm, anak-anakku suka meledek kami;

“Heeee…., ayah sama Ibu lagi pacaran….!”

Aku tak mau anak-anak menjahiliku. Kupelototi matanya. Berharap suamiku tak lagi menggodaku.

“Dek, mau hadiah? You want?”

“Hahaaaa…..!”

Kembali aku tertawa, tertawa dan tertawa.

Masakan telah matang. Kami bersiap makan malam.

“Ayah, you want?”

Ia tertawa. Kami berdua tertawa. Anak-anakku ternganga.

“Ibu sama Ayah bicara apa, sih? Kok tertawa melulu?”

Hahahaaaa…., tak ada yang tahu, apa makna “you want” itu.

Hm, itu sebuah kalimat rahasia, apakah kamu ingin bercinta? Ha-ha-haaaaaaa……***

Cileungsi, Agustus 2009-

Comments Off more...

MAS…, KE ATAS, ATAU KE BAWAH???

Posted by Ida_Choll in Sep 06, 2009, under Uncategorized

Siang ini, selepas mengajar aku membawa pasukan anak-anak ke ITC Cempaka Mas. Bersama yayank-ku, Mas Toto, kami pun melaju menembus waktu. Untuk apa kami menuju ke sana di siang bolong, sementara anak lelakiku tengah berpuasa hingga kering kerontang kedua bibirnya? Dan kami pun sama, tengah menjalankan puasa juga. So, apa enaknya jalan-jalan di siang bolong?

Kalau bukan karena bisnis, di mana banyak orderan barang yang harus aku kirimkan, tentu aku dan suamiku tak akan bersusah-payah menembus siang yang kerontang. Dengan niat sambil “cuci mata”, sambil mencari barang pasanan, sambil membawa anak-anak jalan-jalan, sambil ngabuburit, maka kami pun tak mempedulikan rasa “lemah” pada diri kami lantaran sedang berpuasa.

Bagaimana dengan anak lelakiku? Kuatkah ia berpuasa? Berulangkali ia merengek minta batal puasa, tapi kami melarangnya. Akhirnya, sebuah janji ia ajukan. Jika ia tamat berpuasa, goal tanpa kecolongan satu kalipun, maka kami akan menghadiahinya mobil tamiya. Tak cuma itu, kami akan memberi mereka uang sekian ribu rupiah setiap kali ia berhasil menuntaskan puasa.

Anak kecil tetap anak kecil. Tak berapa lama anak lelakiku berulah lagi. Ia menangis karena kehausan, mukanya pucat dan ia ingin membatalkan puasanya. Sangat disayangkan, kurang dua jam lagi. Tanggung Nak, jangan dibatalin…

Kami membujuk anakku agar diam. Tetap saja, mukanya manyun dan kecut. Sedikit-sedikit merengek, merajuk, pokoknya aneka ekspresi tak mengenakkan akan ia tampakkan.

Akhirnya, kami pun pulang. Kami menuju lantai basement di mana kami memarkir kendaraan.

Anakku masih berulah lagi. Susah menghentikannya. Jadi pusing kepala.

Suamiku menuju pintu keluar. Jalan penuh kelokan, penuh kendaraan. Akhirnya, kami jumpai sebuah tikungan, ke atas dan ke bawah.

Suamiku melajukan mobil menuju ke atas. Aku terkesiap;

“Mas…, kok ke atas? Ke bawah, say….!”

Suamiku enteng saja menjawab;

“Tadi parkirnya di mana? Di atap gedung apa di basement?”

Deggg!!! Matek aku! Benar, suamiku benar. Kami tadi memarkir mobil di basement, so keluarnya harus ke atas, bukan ke bawah. Ah, kenapa aku lupa, ya? Gara-gara anakku rewel melulu…, aku bersungut-sungut.

“Dek, kamu sukanya di atas terus, sih? Emang enak?”

“Husss!”

Kami tertawa, dan pulanglah kami meninggalkan ibukota…
Sementara itu, anak lelakiku masih “ngak-nguk”, merengek ke sana ke mari, tak henti-henti….
Kudiamkan ia, kuelus-elus kepalanya, hingga berhenti rengekannya…..***

Cileungsi, Agustus 2009-

Comments Off more...